Selasa, 19 September 2017

DILEMA MANUSIA DIBALIK ROMANTIKA PERJALANAN ILMUWAN DAN AGAMAWAN

Nenek moyang manusia mungkin benar  berasal dari kera, berjalan membungkuk, sedikit tegap hingga tegap sempurna. Hidup secara berkoloni, mempertahankan hidup dengan cara berburu  dan nomaden di alam, beralih ke cara bercocok tanam dan menjinakkan binatang buas, perlahan mulai hidup menetap di suatu daerah hingga sampai pada suatu zaman dimana manusia mulai mengenal kepemilikan pribadi. Sejarah perjalanan panjang kisah manusia di bumi tersebut sedikit banyak telah kita dengar sejak kita duduk di bangku sekolah, dan hingga kini masih menjadi bahan perbincangan yang cukup menarik bagi semua kalangan di tengah banyaknya buku maupun jurnal-jurnal ilmiah yang mencoba untuk meneliti, membuktikan, hingga berani meragukan ataupun membenarkannya. Meskipun sebenarnya perbincangan yang berujung debat itupun terlihat monoton karena hampir kesemuanya mempunyai pandangan yang sama, sama-sama menolak bahwa nenek moyang mereka mempunyai kemiripan dengan kera yang biasa mereka jumpai di hutan, kebun binantang maupun tayangan-tayangan televisi.
Semenjak Charles Darwin, seorang Ilmuwan yang mencetuskan sebuah konsep tentang seleksi alam atau yang lebih dikenal dengan teori evolusi berhasil menggemparkan dunia dengan berbagai kontroversinya, meskipun harus diakui sedikit banyak teori  tersebut memberi sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang biologi dan ilmu sejarah. Secara ilmiah teori tersebut memang mengandung banyak kekurangan dan terbantahkan oleh teori-teori ilmiah lainnya, hal itupun juga diakui oleh Charles darwin sendiri, yang menyatakan bahwa mendapat banyak kesulitan dalam menyusun teori tersebut, hal ini sangatlah wajar mengingat sumber-sumber informasi dan peralatan yang digunakan mungkin masih terbatas jika dibandingkan saat ini. Kontroversi  terkait anggapan bahwa manusia berevolusi terus berlanjut hingga hari ini, mulai dari kalangan ilmuwan, agamawan hinga masyarakat awam yang tentunya minim informasi dan tidak memiliki dasar keilmuan yang cukup kuat tentang teori tersebut serta mudah digiring oleh opini-opini yang cenderung mengatasnamakan  keyakinan Agama. Kelompok-kelompok Agamawan yang membawa semangat kreasionis merasa terganggu dengan munculnya teori tersebut, kemapanan dogma agama yang menyatakan bahwa manusia pertama langsung diciptakan dengan wujud manusia seperti saat ini mulai mendapat ancaman, hal tersebut wajar terjadi mengingat teori evolusi mulai bisa diterima dengan luas oleh komunitas ilmiah dengan berbagai kekurangannya. Adam sebagai manusia pertama di bumi yang dipercayai oleh Agama-agama Semantik perlahan dan sembunyi-sembunyi mulai dipertanyakan oleh para penganutnya, meskipun dalam jumlah yang relatif sedikit dan terbatas pada beberapa kalangan saja. Karena hal ini dianggap bukanlah masalah sepele, mengingat sudah menyentuh ranah kepercayaan, yang hingga hari ini  kepercayaan (bagaimanapun metodenya) masih menjadi pondasi yang kuat bagi tumbuh suburnya Agama-agama tersebut. Hal inilah yang menjadikan Charles Darwin selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang mengaku berpaham Ateis dengan menolak adanya unsur-unsur yang bersifat non-materi, mereka semakin yakin bahwa sains sedikit demi sedikit akan mampu menjawab misteri-misteri yang selama ini masih dipercayakan kepada kitab-kitab suci.
Dari segi ilmu pengetahuan, Bukti – bukti ilmiah yang disampaikan Darwin memang belum cukup mampu untuk mengatakan bahwa manusia merupakan perkembangan langsung dari kera atau simpanse seperti  yang kita pahami saat ini (binatang berjalan hampir tegak menyerupai manusia). Pendekatan-pendekatan ilmiah yang disampaikan oleh Darwin baru sampai pada kesimpulan bahwa jutaan tahun silam ada keterputusan garis silsilah yang menghasilkan kera-kera seperti yang kita lihat saat ini (Ponginae) dengan Kera-kera besar yang dianggap sebagai kerabat dekat manusia (Hominid), Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Hominid dan Ponginae adalah satu asal usul. Sehingga jika kita mencermati teori tersebut, sama sekali tidak menganggap bahwa manusia hari ini adalah keturunan langsung dari kera-kera yang biasa kita jumpai, hanya ada kemiripan antara nenek moyang manusia dari segi fisiknya dengan kera, dan sepintas memang tidak bisa kita sangkal bahwa kera merupakan hewan yang memiliki ciri-ciri fisik hampir menyerupai manusia. Terlepas dari isi teori yang mungkin sulit diterima oleh kebanyakan masyarakat awam, khususnya  kelompok-kelompok agamawan, baik agama Semantik maupun agama-agama lainnya, kita perlu memahami dan  menyadari bahwa bagaimanapun juga teori evolusi  yang digagas oleh Darwin tersebut adalah sebuah teori ilmiah yang disusun dengan metode-metode tertentu dan hasilnya pun masih dianggap sebuah hipotesa.
Seluas apapun sebuah teori ilmiah digunakan, tentunya tetaplah bersifat relatif, Sebuah teori digunakan dan bahkan dijadikan acuan bukan karena teori tersebut dianggap paling benar, melainkan karena belum ada teori baru yang menyangkal kebenarannya. Kita ambil contoh teori dan rumus “proyeksi pertumbuhan penduduk”, yang digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk di tahun-tahun yang akan datang dan penggunannya luas dalam bidang  lingkungan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain, teori dan rumus tersebut masih digunakan dan diajarkan di lingkungan dunia pendidikan bukan karena dianggap paling benar dan satu-satunya, tetapi karena  validitas dan tingkat kesalahan dari rumus tersebut masih bisa ditolerir, padahal teori dan rumus tersebut tidak mempunyai sumber pijakan yang jelas, sampai-sampai untuk keperluan referensi ataupun kutipan teori dan rumus tersebut harus ditulis dengan istilah “Anonymous”. Sebuah  Teori ilmiah masih akan dipertahankan terutama dalam wilayah-wilayah praktis, selama dari sisi penggunaan dan manfaatnya masih teruji dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian juga dengan teori yang mempunyai pengaruh besar dalam sejarah perjalanan umat manusia, yang ditulis oleh Karl marx dan Friedrich Engels yang meramalkan bahwa Kapitalis akan runtuh dengan sendirinya akibat dari mekanisme kerja kapitalis itu sendiri, hancur dan melebur bersama borjuis-borjuis penguasa alat produksi  Sehingga perlahan akan tercipta dunia tanpa kelas. Tapi  Sejarah membuktikan bahwa prediksi Karl marx tersebut salah, kapitalis dengan cepat mampu memahami  kelemahannya sendiri dan menyesuaikan dengan keadaan sehingga sampai pada hari ini mampu bekerja dengan wajah yang lebih humanis dan memproklamirkan diri  sebagai pemenang. Gagalnya pembuktian teori yang digagas oleh karl marx tersebut tidak bisa dengan begitu saja menguburnya dalam-dalam, bagaimanapun juga Teori-teori yang disampaikan oleh Karl Marx adalah sebuah teori yang disusun berdasarkan hasil penelitian dan analisa dengan metode-metodenya yang mampu dipaparkan dan diterima dengan cukup luas di seluruh dunia.
Sungguh tidak fair dan sangat tidak bisa diterima jika harus melawan  sebuah teori ilmiah dengan menggunakan pendekatan ayat-ayat kitab suci, hanya karena teori yang diajukan dianggap mengancam dan bisa merusak keimanan seseorang. Bagaimana mungkin sebuah teori ilmiah yang bersifat relatif harus dihadapkan dengan ayat-ayat kitab suci yang tentunya kita semua sepakat akan kemutlakannya yang final. Banyak kita temui para tokoh-tokoh agamawan baik yang memiliki latar belakang pendidikan sains maupun tidak, mencoba meramu sebuah teori yang terkesan dihubung-hubungkan dengan ayat-ayat kitab suci untuk melawan sebuah teori yang dianggap dapat mengganggu tatanan kehidupan beragama yang paling prinsipal, yaitu kepercayaan. Sebagai seorang muslim tentunya kita sangat mengakui dan menghormati beberapa tokoh Islam yang sering menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi terbuka seperti Harun Yahya dan zakir Naik, kemampuannya dalam menafsirkan Al-Qur’an dan menjawab misteri-misteri tentang  Islam maupun Al-Qur’an  sangat luar biasa. Akan tetapi upaya mereka untuk merobohkan teori-teori yang dianggap bertentangan dengan Agama seperti Teori Darwin tentang Evolusi seakan dipaksakan, Argumen penolakan yang berdasar pada  ayat-ayat kitab suci justru seakan mencari pembenaran sendiri dan terkesan bersifat Apologetik. Bukan sesuatu yang salah jika harus menggunakan kalimat ataupun ayat dalam kitab suci sebagai jalan pendekatan untuk lebih meyakinkan kebenaran ataupun kesalahan sebuah teori, semisal teori tentang proses penciptaan manusia, maupun yang sedang  hangat dan menjadi isu beberapa waktu yang lalu, yakni  teori tentang Bumi yang berbentuk bulat ataukah datar. Penting bagi kita untuk bijak dalam menilai sebuah teori, apakah sebuah teori yang akan kita bahas tersebut masuk dalam Domain Agama ataukah Sains ? karena keduanya mempunyai jalan dan standart tersendiri untuk sampai pada kesimpulan diterima atau ditolak.
Celah kosong yang ada dalam sains memiliki potensi besar untuk dimasuki oleh Agama, Teori Newton tentang Gravitasi masih menyisakan ruang untuk di pecahkan, penjelasan teori dan ketetapan – ketetapan angka yang dibuatnya masih menyisahkan tanda tanya, perputaran bumi dan benda benda langit lainnya mampu dijelaskan dengan perhitungan-perhitungan sedemikian rupa, tapi tetap saja masih menyisakan ruang  kosong yang belum terisi, apa dan siapa dalang dibalik ketepatan-ketepatan yang rumit ini ? disitulah agama mempunyai kesempatan untuk masuk menggarapnya. Perintah dan tuntunan agama yang ditulis dalam kitab suci mampu ditafsirkan manusia agar mampu dipahami dan dijalankan penganutnya meskipun dengan bahasa yang berbeda, namun lagi-lagi masih juga menyisakan ruang kosong yang perlu diisi agar dapat dilaksanakan dan tidak menimbulkan Permasalahan kedepannya. Hari-hari besar keagamaan umat islam sudah mempunyai ketetapannya masing-masing, sebagai contoh Idul fitri dan Idul Adha, tetapi karena sistem penanggalan yang berdasarkan pada perputaran bulan dan dipengaruhi oleh banyak faktor alam maka penentuan waktu jatuhnya hari tersebut memerlukan instrumen lain, tidak bisa hanya bersandar pada teks-teks kitab suci, hadits maupun kitab-kitab klasik, disinilah ilmu pengetahuan atau sains tampil unjuk gigi untuk mencoba memecahkannya dengan metode dan teknologi  yang hasilnya diharapkan bisa diterima oleh semua kelompok Islam.
Penerimaan kita pada teori-teori ilmiah, terutama yang mengandung banyak kontroversi dan bertentangan dengan dalil-dalil teks suci tidak kemudian menjadikan kita seakan-akan melawan ataupun mengingkari kitab suci itu sendiri, terlebih sampai menjadikan diri kita menerima label Kafir. Teori ilmiah yang dibuat oleh manusia adalah upaya yang dilakukan untuk memecahkan hal-hal yang masih belum bisa dijelaskan, sifatnya yang relatif sehingga bisa dibantah oleh teori baru lagi yang muncul, begitu dan seterusnya. Disitulah esensi yang paling diperlukan dari buah pikiran manusia, selalu berubah menuju kemajuan. Jika kita mengamati tempat tinggal manusia yang semula dibuat dari batu, kayu ataupun bahan-bahan dari alam yang sifatnya praktis, kini semenjak ditemukannya teknologi dan teori-teori baru dalam bidang ilmu bangunan maka manusia memulai era baru untuk menempati ruang-ruang beton yang menjulang tinggi dan indah. Kita tidak bisa bayangkan jika teknologi beton belum ditemukan hingga hari ini, mungkin manusia akan tinggal di dalam potongan potongan batu ataupun menebang  semua pohon sebagai tempat tinggal, dan kita tidak akan pernah mendengar istilah hutan amazon dan hutan borneo sebagai paru-paru dunia karena tentunya sudah habis ditebang untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal manusia. Bangsa belanda selama ribuan tahun berjuang melawan derasnya air laut yang menerjang wilayah daratannya mau tidak mau harus mencari dukungan dari berbagai teori-teori yang tentunya bersifat relatif yang dibuat oleh para pakar keairan, karena mereka sadar teks-teks kitab suci dan khotbah dari rumah ibadah tidak mampu menahan derasnya air laut yang kapan saja bisa menenggelamkan apapun yang mereka miliki.
Persinggungan ilmu pengetahuan dengan agama sampai kapanpun akan terus terjadi, para ilmuwan yang setiap waktu terus berupaya untuk membuat suatu terobosan harus mampu diimbangi oleh kelompok agamawan jika tidak ingin terseok-seok dan bahkan dilibasnya. Kemunculan media sosial di era globalisasi yang sempat dipermasalahkan oleh beberapa kelompok agamawan di sebagian negara karena dianggap membawa banyak sisi negatif, perlahan tapi pasti mereka menerima dan bahkan turut menggunakannya sebagai media untuk menyalurkan doktrin-doktrin keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada titik kompromi yang bisa dilakukan oleh agama, atau kalau tidak ingin dikatakan kalah dan menyerah sehingga terpaksa mencebur didalamnya.
Manusia yang memiliki otak sebagai sumber akal dan hati sebagai sumber kepercayaan seringkali mengalami dilema dalam menyikapi pertarungan para ilmuwan dan agamawan,  terkadang di satu sisi tidak berani meninggalkan doktrin agama yang talah dianutnya sejak awal, tapi di sisi lain pikiran dan akal manusia tidak bisa dibohongi untuk menerima sesuatu yang meskipun hal tersebut bertentangan dengan keyakinan yang dipercayainya, sehingga sejak di alam pikiran manusia sulit untuk bersikap adil, benar yang dikatakan oleh sastrawan Pramudya Ananta Toer “Bersikap adillah sejak dalam pikiran, jangan menjadi hakim bila kau belum tahu duduk perkara yang sebenarnya”.
Ilmu pengetahuan dan agama telah mengalami romantika hebat sepanjang perjalanannya, terkadang harus saling bermusuhan, tidak jarang pula berjalan bergandengan dan di beberapa situasi juga harus berjalan sendiri-sendiri. Islam yang telah hadir sejak 1400 tahun yang lalu tentunya pernah mengalami masa-masa seperti diatas, bagaimanakah perjumpaan islam dengan ilmu pengetahuan hingga hari ini?

*catatan kaki tidak kami tampilkan, artikel ditulis sebagai bahan diskusi kelompok mahasiswa pada januari 2017

1 komentar:

  1. Asal mulanya agama sendiri, pertama kali digunakan oleh nenek moyang untuk menjelaskan sesuatu yang berada di luar pemahaman mereka. Misal, mengapa ada siang & malam, mengapa terjadi bencana alam? Lebih mudah menjawab, itu adalah kehendak dewa. Sedari awalnya yang memiliki manfaat sebagai jawaban, agama berkembang menjadi institusi kuat yang menjadi penopang setiap peradaban.

    Sebagai orang yang beragama, semua tentu meyakini, bahwa agama yang dianut telah final. Betul kata bang jafad, ada celah-celah dalam sains yang dapat diisi oleh agama. Tapi masalahnya, kalau agama itu stasioner, IPTEK itu terus melesat. Siapa dulu yang mengisi celah tersebut, agama, atau IPTEK? Terlebih dua fungsi agama yang utama, yaitu agama sebagai jawaban atas fenomena-fenomena alam & sosial, juga agama sebagai institusi, perlahan mulai tergerus.

    BalasHapus